Home » Yuk kenalan dengan Paraben, Irritant, dan Allergen

Yuk kenalan dengan Paraben, Irritant, dan Allergen

Yuk kenalan dengan Paraben, Irritant, dan Allergen

GoNaturalCare.com – Memahami kandungan dalam produk perawatan kulit adalah langkah penting untuk menjaga kesehatan dan kecantikan kulit. Seringkali kita dihadapkan pada daftar bahan yang panjang dan membingungkan, salah satunya adalah paraben, iritasi, dan alergen. Artikel ini akan mengupas tuntas mengenai ketiganya agar Anda dapat membuat pilihan yang lebih bijak.

Tidak usah terlalu banyak intro, mendingan langsung ke intinya aja. Nggak suka basa-basi akutuh😅

Paraben

Apa itu Paraben dan macam-macam nya

Kepanjangan nya: para-hydroxybenzoate adalah bentuk ester atau turunan dari senyawa natural para-hydroxybenzoic acid (PHBA), yaitu senyawa yang bisa ditemukan pada buah-buahan dan tanaman, contohnya: timun, wortel, Cherry, bawang merah, cloudberry etc. Menurut Situs EWG, kandungan paraben yang ditemukan pada cloudberry sangat kecil, yakni sekitar 0,1- 0,4mg per 100gr (0,0001-0,0004%).

Paraben sendiri adalah pengawet Broad Spectrum yang efektif walau konsentrasi rendah. Formula hanya butuh sekitar 0,01-0,3% untuk bisa memperpanjang usia produk hingga 6-12 bulan.

Paraben ada banyak jenisnya: methylparaben, ethylparaben, propylparaben, butylparaben, isopropyl-, isobutyl-, pentyl-, phenyl-, benzyl etc. Masing-masing memiliki kemampuan yang berbeda, sehingga nggak jarang kita jumpai ada 1 jenis atau lebih Paraben dalam 1 formula sebagai preservatives blends.

Contohnya: methyl dan ethylParaben sering dikombo karena kemampuannya nggak cukup potensial. Sementara butylparaben atau propylparaben bisa digunakan sebagai pengawet tunggal karena sangat potensial.

Picture taken from labmuffin.com

Kontroversi Paraben

Well, terkait kontroversi nya, Paraben dikabarkan tidak aman, mempengaruhi sistem hormonal, hingga bisa menimbulkan efek negatif yang serius, seperti kanker, itu semua adalah MITOS, Gaes.

Faktanya:

Menurut The 1998 Routledge study menunjukkan bahwa Paraben itu lemah (dalam hal mempengaruhi hormon)

Menurut uji-in Vitro Butylparaben (jenis Paraben paling potensial) itu 10.000x lebih lemah dari pada Estradiol (yaki estrogen sintetis yang digunakan untuk meredakan gejala menopause), dan methylparaben 2.500.000x lebih lemah dan bahkan sama sekali tidak aktif (inactive) ketika diujicobakan pada tikus.

Terlebih lagi, pengujian lewat hewan (e.g tikus) biasanya dilakukan melalui injeksi, Gaes, pakai dosis besar pulak. Bukan diaplikasikan secara topikal seperti kalo kita pakai skincare. ((Jelas ini perbandingan yang nggak apple-to-apple))

Study lain menunjukkan: mengaplikasikan cream yang mengandung 2% butylparaben ke seluruh tubuh selama 1 Minggu tidak menunjukkan efek jangka pendek pada hormon tiroid maupun hormon reproduksi.

Thus, hingga saat ini belum ada bukti langsung bahwa paraben berdampak negatif pada sistem hormonal manusia.

In fact, Produk Personal care menggunakan Paraben dengan jumlah yang sangat sedikit, yang ketika berhasil meresap ke dalam kulit akan diubah oleh enzim melalui proses metabolisme menjadi bentuk murni nya, yaitu: para-hydroxybenzoic acid (PHBA) yang less estrogenic daripada paraben itu sendiri. Dan tidak ada bukti yang menunjukkan Paraben terakumulasi di dalam darah/tubuh, melainkan di keluarkan lewat urin.

Efek Samping Paraben

Satu-satunya efek samping Paraben yang telah terbukti adalah: Alergi. Itupun nilainya rendah. Dilaporkan ada sekitar 0.5 – 1.7% individu yang alergi terhadap Paraben di US dan Europe. Lebih rendah dari pengawet Formaldehyde, yakni hingga 9% di US, dan 2,5% di eropa. Dan Imidazolidinyl urea: 2% (US), 1% (Eur)

Paraben Safety

Organisasi bidang kesehatan seperti:

  • FDA (Food & Drug Administration),
  • CIR (Cosmetics Ingredient Review),
  • NCI (National Cancer Institute),
  • Cancer Council Australia,
  • SCCS (European Commission Scientific Committee om Consumer Safety),
  • Health Canada,

telah menyimpulkan bahwa Paraben generally recognized as safe (Secara umum adalah bahan yang aman) dan is unlikely to be linked to cancer ( tidak ada hubungannya dengan kanker).

Namun, ada beberapa jenis Paraben yang di-banned, contohnya: Paraben dengan awalan isopropyl-, isobutyl-, pentyl-, phenyl-, benzyl-.

Sementara methylparaben, ethylparaben (Paraben dengan rantai pendek) lebih aman (with little concern) dengan dosis maksimal 0,2-0,4% dan bahkan beberapa sumber mengatakan Paraben jenis ini aman untuk ibu hamil dan busui.

Untuk Paraben jenis Butylparaben, propylparaben (Paraben dengan rantai panjang) cenderung lebih ‘kuat’ (warrant more caution) dan lebih baik dihindari selama masa kehamilan dan menyusui. Dosis maksimal yang diijinkan 0,19%.

Ada Update lagi ni, Gaes…..

Baca juga : Cek Ingredients Aizen Phytocrystal Holybright Ampoule

Jadi beberapa hari yang lalu, beredar vidio yang cukup meresahkan, tentang penelitian terbaru 2023 yang menunjukkan bahwa Paraben dinyatakan positif mempengaruhi ekspresi genetis yang diasosiasikan dengan sel kanker, karena bersifat xenoestrogen (endocrine disruptor).

Well, Sebenarnya penelitian-penelitian terdahulu, udah ngasih tau juga, kalo Paraben itu memang estrogenic, kok.

Coba perhatikan kalimat ini👇

“Menurut The 1998 Routledge study menunjukkan bahwa Paraben itu lemah

Kata “Lemah” bukan berarti nggak ada sama-sekali.

Iya ada. Ada pengaruhnya tapi lemah.

Sehingga bisa dikatakan penelitian 2023 ini sifatnya hanya memvalidasi, hanya saja di penelitian itu beda objek nya ((dulu pake hewan)) sekarang lebih berani, yakni pakai manusia sebagai objek penelitian. *Jujur sempet ikut panic, dong.🥲

Tapi hal ini tetap tidak mempengaruhi fakta bahwa Paraben itu ribuan hingga jutaan kali lebih lemah dari estrogen natural yang ada di tubuh kita.

Lihat lah betapa lemahnya Paraben itu, aktivitas estrogenic nya 1/ribuan hingga jutaan dibanding estradiol. Sumber: labmuffin

Bahkan ketika kalian menggunakan 17 produk yang berbeda dalam sehari, dan semuanya mengandung propylparaben dengan konsentrasi maksimum (0,183%), itu masih 12.519x lebih lemah dari dosis yang dianggap aman.

Dan yang bisa mempengaruhi ekspresi genetis kek gini bukan hanya Paraben, Rokok dan asap rokok harusnya lebih parah lagi dong ya😅

Jadi balik lagi ke consern masing-masing. Jika kalian tipe orang yang ‘better safe than sorry‘ kalian bisa menghindari kandungan Paraben, dan postingan skincapedia akan tetap konsisten memberi info tambahan berupa ceklis ‘no paraben‘ jika memang produk tersebut tidak mengandung Paraben. ✌️

Kalo saya pribadi tetap memegang prinsip ‘the dose makes the poison’ yang artinya zat tersebut akan jadi racun atau tidak itu tergantung dosisnya

Dan perlu kita tahu bahwa ‘every ingredient has a safe level, and every ingredient is harmful when used in excess

Setiap zat/ingredients di ‘dunia’ ini ada level keamanan masing-masing dan sekaligus dapat memiliki efek samping yang merugikan jika digunakan secara berlebihan…

Ambil contoh, nggak usah jauh-jauh, tengok aja di dalam perut kita ada apa. Ada HCL, Gaes, (komponen utama asam lambung). Jika HCL ini dosisnya ada pada tempatnya, maka aman, bahkan berguna. Tapi jika dosis nya naik dikiiittt aja, bisa menjadi penyakit.

Irritant

Adalah zat/ingredient yang bisa menimbulkan iritasi jika digunakan dengan cara yang salah pada kondisi kulit yang kurang tepat. Iritasi adalah respon lokal pada kulit karena adanya suatu reaksi kulit setelah terpapar zat kimia, sehingga menyebabkan inflamasi atau luka.

Iritasi ditandai dengan kemerahan, kulit terasa kering, ngelupas, perih, dan panas, juga merupakan salah satu gejala skin barrier bermasalah.

Yang termasuk zat Irritant

  1. Bad Alcohol

    Perlu diingat bahwa tidak semua ingredients yang mengandung kata “Alcohol” adalah bad alcohol.

    Contoh bad alcohol:

    • ethanol,
    • ethyl alcohol,
    • alcohol Denat,
    • Denturated ethyl alcohol
    • SD Alcohol.
    • Isopropyl alcohol

    Dermatolog, Dr. Shuting Hu, seorang ahli kimia kosmetik dan founder Acaderma mengemukakan bahwa Alcohol masih dikatakan aman jika konsentrasi nya rendah. Dibawah 1%.

    if the alcohol is added as a solvent (meaning it’s added to help with absorption), it is usually found at the bottom of the ingredient list and is not harmful or worrisome. According to dr.Hu, in these cases, “the concentration is too low to have a significant impact on the skin.”

    Lebih lanjut lagi, dr. Hu menyatakan alkohol dapat menimbulkan efek samping bagi kulit dehidrasi, kering, irritated dan skin barrier nya nggak ‘intact‘ (red: bermasalah). Sementara untuk kulit normal, alkohol pada umumnya tidak menimbulkan masalah.

    Efek samping alcohol ini juga dapat terminimalisir jika diimbangi dengan Emollient yang cukup, dan ingredients yang baik untuk skin barrier.

    So, Jika kulit kalian sedang breakout, wajib menghindari produk dengan kandungan alcohol terutama yang urutan posisi nya di atas pada Ingredients list nya.

  2. Surfactant

    Agen Surfaktan itu banyak sekali, tapi yang termasuk jenis harsh surfactant biasanya:

    • SLS (sodium Lauroyl sulfate)
    • SLES (sodium Laureth sulfate)
    • Soap (hasil reaksi minyak/asam lemak + sodium/potassium hydroxide)
    • Sodium Olefin C14-16 Sulfonate/Olefin sufonate

    Mereka semua adalah agen Surfaktan anionic, bersifat high pH yang memiliki daya bersih yang sangat efektif (dan murah) yang saking bagusnya kelembapan alami kulit ikut teremulsi.

    Dari tabel ini, bisa kita lihat SLS lah yang paling berpotensi

    Jika surfactant jenis ini tidak diformulasikan secara proper, dapat menggangu acid mantle kulit, sehingga cenderung bikin kulit kering, iritasi, dan bisa memperparah kondisi skin barrier yang sedang bermasalah.

    Jika kebetulan pembersih wajah yang kalian gunakan mengandung surfactant di atas, kalian hanya perlu mengimbangi nya dengan Hydrating toner atau Moisturizer setelah mencuci muka.

    Namun, jika kulit kalian sedang tidak baik-baik saja, ada baiknya pilih pembersih yang banyak kandungan pelembapnya, atau kalian bisa pilih pembersih yang sulfate free, Non-soap formula, pH balance atau low pH.

  3. Methylisothiazolinone/Methylchloroisothiazolinone

    Adalah pengawet yang lebih direkomendasikan pada produk rinse-off. Karena cenderung menyebabkan iritasi jika dipakai pada produk leave-on.

  4. Essential Oil

    A.k.a volatil oil, minyak terbang, minyak yang mudah menguap, dan memiliki aroma khas tertentu. Essential Oil tidak boleh digunakan langsung pada kulit, melainkan harus diencerkan terlebih dahulu dengan minyak pembawa (Carrier oil).

  5. Menthol,

    Adalah senyawa natural yang terdapat pada Essential Oil seperti Peppermint oil, memiliki efek cooling sensation. Dia juga memiliki kemampuan penetration enhancer, dan memiliki molekul yang sangat kecil sehingga mudah menembus jaringan kulit.

    Well, kulit bagian dalam itu sangat ‘delicate‘, Gaes. Jika terpapar zat kimia yang ‘harsh‘, disitulah iritasi dimulai.

  6. Active Ingredients

    Well, bahkan ingredient aktif seperti niacinamide, Vit C, AHA, BHA, retinol, Benzoyl peroxide, tretinoin, sulfur, juga memiliki potensi iritasi jika digunakan secara serampangan dan tidak sesuai petunjuk.

  7. Agen abrasive (scrub)

    Jika kita tidak bijak dalam menggunakan produk scrub, misalnya kita terlalu sering menggunakan nya atau terlalu keras saat menggosok nya tentu saja bisa menimbulkan masalah buat kulit, seperti kulit lecet, perih, kemerahan, dan iritasi.

Allergen

Adalah zat/Ingredients yang memicu alergi. Alergi sendiri adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi secara tidak normal terhadap zat asing. Alergi berbeda dari iritasi. Namun, gejalanya bisa mirip satu sama lain. Gejala umum alergi adalah: ruam, gatal, bentol, biduran, bengkak, bersin-bersin, bahkan sesak nafas hingga dapat mengancam nyawa.

Ingrdients yang termasuk Allergen adalah:

  1. Essential Oil

    Tidak hanya berpotensi sebagai irritant namun juga bersifat Allergen. Contohnya:

    • Lavandula Angustifolia oil (lavender),
    • rosa damascena flower oil (rose)
    • Jasminum Officinalis flower oil (Jasmine)
    • Citrus reticulata peel oil (jeruk Mandarin)
    • Citrus bergamia oil (bergamot),
    • Citrus Aurantium Dulcis

Artikel menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *