Home » Macam-macam pengawet dalam skincare dan Kontroversi nya

Macam-macam pengawet dalam skincare dan Kontroversi nya

Macam-macam pengawet dalam skincare dan Kontroversi nya

GoNaturalCare.com – Keberadaan pengawet dalam produk perawatan kulit (skincare) memang krusial untuk menjaga kualitas dan keamanan produk dari kontaminasi mikroorganisme. Tanpa pengawet, produk bisa cepat rusak, bahkan berpotensi membahayakan penggunanya karena pertumbuhan bakteri atau jamur.

Pengawet berfungsi melindungi formula produk baik sebelum kemasan dibuka maupun setelah digunakan. Fungsinya sangat beragam, mulai dari mencegah pertumbuhan bakteri dan jamur, melindungi formula dari proses oksidasi, hingga mencegah reaksi dengan ion logam.

Pengawet dalam skincare. Foto diambil dari sumber.

Namun, di balik manfaatnya, beberapa jenis pengawet dalam skincare kerap menjadi subjek kontroversi di kalangan konsumen. Mari kita kenali lebih dalam mengenai macam-macam pengawet tersebut dan perdebatan seputar keamanannya.

Macam-macam Pengawet yang Kontroversial

1. Phenoxyethanol

Phenoxyethanol adalah salah satu pengawet yang paling umum ditemukan dalam produk skincare. Ia dikenal sebagai pengawet broad spectrum yang efektif melawan bakteri, ragi, dan jamur, sehingga sering digunakan sendirian tanpa perlu dikombinasikan dengan pengawet lain.

Secara alami, phenoxyethanol dapat ditemukan dalam teh hijau. Namun, sebagian besar phenoxyethanol yang digunakan dalam industri kosmetik adalah hasil sintesis laboratorium. Senyawa ini berbentuk cairan kental dengan aroma samar seperti mawar. FDA dan BPOM menyatakan phenoxyethanol aman digunakan dalam kosmetik dengan konsentrasi maksimal 1%.

Mekanisme kerjanya adalah dengan merusak membran sel bakteri, mencegah sintesis DNA dan RNA, sehingga menghambat reproduksi mikroorganisme dan mencegah kontaminasi formula. Menurut EWG, phenoxyethanol memiliki skor keamanan 2-4 (bendera kuning).

Meskipun demikian, phenoxyethanol dapat menyebabkan iritasi, ruam, atau dermatitis kontak pada individu dengan kulit sensitif. Namun, secara umum dianggap aman untuk sebagian besar jenis kulit.

2. Chlorphenesin

Chlorphenesin merupakan pengawet sintetis yang efektivitasnya dalam melawan jenis bakteri tertentu cenderung lebih lemah. Oleh karena itu, ia sering dikombinasikan dengan pengawet lain seperti phenoxyethanol atau caprylyl glycol untuk meningkatkan daya tahannya.

Pada tahun 2008, FDA pernah melarang penggunaan produk yang mengandung kombinasi chlorphenesin dan phenoxyethanol karena berpotensi menyebabkan muntah dan diare pada bayi yang disusui. Namun, saat ini FDA menganggap chlorphenesin aman sebagai bahan kosmetik. CIR Expert merekomendasikan batas penggunaan maksimum 0,32% untuk produk bilas (rinse-off) dan 0,3% untuk produk leave-on.

Menurut EWG, chlorphenesin memiliki skor keamanan 3 (bendera kuning). Secara umum, chlorphenesin dianggap aman dan tidak menimbulkan toksisitas atau gangguan pada sistem reproduksi. Namun, seperti pengawet lainnya, chlorphenesin dapat menyebabkan iritasi dan ruam pada kulit yang alergi atau sangat sensitif.

3. Paraben

Paraben adalah singkatan dari para-hydroxbenzoate, yang meliputi berbagai jenis seperti methylparaben, ethylparaben, propylparaben, dan butylparaben. Kelompok pengawet ini menjadi salah satu yang paling kontroversial hingga saat ini.

Kontroversi seputar paraben bermula pada tahun 2004 ketika seorang peneliti Inggris menemukan keberadaan paraben dalam tumor payudara, yang kemudian memicu kekhawatiran akan potensi karsinogeniknya. Meskipun demikian, hingga kini belum ada penelitian yang secara definitif membuktikan bahwa paraben secara langsung menyebabkan kanker atau penyakit serius lainnya.

Paraben memang memiliki potensi efek samping berupa alergi, ruam, iritasi, dan kulit kering pada kondisi kulit tertentu. Namun, efek ini umumnya sebatas dermatitis kontak dan tidak mengancam jiwa.

Baca juga : Cek Ingredients MORIGANIC EXFOSURE TONER

Jadi, apakah Paraben Aman?

Setelah kejadian kontroversi tersebut, CIR Expert melakukan kajian ulang mengenai keamanan paraben. Hasilnya menunjukkan bahwa kadar paraben yang sangat rendah dalam produk kosmetik masih dianggap aman dan tidak menyebabkan kanker. CIR Expert menetapkan batas aman penggunaan paraben dalam kosmetik adalah 0,2-0,8%, di bawah 1%.

Paraben dapat diserap oleh kulit dan masuk ke aliran darah, namun hanya sekitar 4% yang terserap dan sebagian besar akan dikeluarkan melalui urin. Jumlah paraben yang terakumulasi dalam tubuh sangatlah kecil.

Sebagai ilustrasi kasar, jika sebuah produk toner 100ml mengandung 0,2% paraben, maka jumlahnya adalah 0,2ml. Sebanyak 4% dari jumlah tersebut, yaitu 0,008ml, yang akan masuk ke aliran darah. Jika toner tersebut habis dalam sebulan, maka total paraben yang masuk ke tubuh hanya 0,008% per bulan, dan akan dikeluarkan melalui urin tanpa terakumulasi.

Berdasarkan analisis ini, CIR Expert menyimpulkan bahwa paraben dalam konsentrasi yang diizinkan tidak cukup berbahaya untuk menyebabkan kanker, bahkan dalam jangka panjang. Namun, seperti yang disebutkan sebelumnya, paraben tetap berpotensi menimbulkan efek samping seperti iritasi dan alergi pada kulit sensitif.

Ibu Hamil Boleh Pakai Paraben?

Untuk ibu hamil, disarankan untuk menghindari penggunaan produk yang mengandung paraben. Sebuah studi menemukan bahwa penggunaan paraben selama kehamilan dapat berdampak pada perkembangan bayi, meningkatkan risiko bayi menjadi kelebihan berat badan atau obesitas di kemudian hari. Namun, ini bukan terkait dengan risiko kanker.

Our results provide strong evidence that parabens, in particular butylparaben, contribute to an increased risk that children will become overweight,” ujar Tobias Polte, penulis senior studi dari Leipzig University Medical Center di Jerman. (Sumber referensi*).

Skor EWG untuk Paraben:

  • Propylparaben: 9 (bendera merah), konsentrasi aman: maksimum 0,19%
  • Butylparaben: 9 (bendera merah), maksimum 0,19%
  • Methylparaben: 3-4 (bendera kuning), maksimum 0,2 %
  • Ethylparaben: 3 (bendera kuning), maksimum 0,4%

4. DMDM Hydantoin

DMDM Hydantoin termasuk dalam kategori formaldehyde releaser, yaitu pengawet yang melepaskan sejumlah kecil formaldehida untuk membunuh bakteri, jamur, dan patogen lainnya. Pengawet ini juga kontroversial karena kaitannya dengan formalin.

Menurut CIR Expert, DMDM Hydantoin aman digunakan dalam kosmetik dengan konsentrasi maksimum 0,074%. Jepang membatasi penggunaannya hingga 0,75% pada produk rinse-off dengan label peringatan, sementara Amerika Serikat mengizinkan hingga 1,5%, dan Uni Eropa hingga 0,6%. (Sumber referensi*).

Meskipun kata formalin terdengar menakutkan, perlu diketahui bahwa formaldehida adalah senyawa alami yang ada dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam buah, sayur, bahkan kopi. Tubuh manusia juga memproduksi formaldehida sebagai bagian dari metabolisme. Formaldehida tidak terakumulasi dalam tubuh dan akan dikonversi menjadi karbon dioksida saat bernapas. (Sumber referensi).

First of all, formaldehyde is a natural substance. Every living organism produces it, including the human body. It is, in fact, present in every breath we exhale. Formaldehyde is also present in fruits, vegetables, meats, fish, and many beverages including alcoholic beverages and coffee“. (Sumber referensi*).

Penting untuk diingat bahwa “the dose makes the poison“. Menghirup formaldehida dalam jumlah besar, misalnya dalam larutan 37% dengan dosis tinggi, tentu sangat berbahaya.

DMDM Hydantoin berpotensi menyebabkan iritasi, alergi, dan kemerahan pada kulit, terutama pada kondisi kulit tertentu. Skor EWG untuk DMDM Hydantoin adalah 6 (bendera kuning).

5. Imidazolidinyl Urea, Diazolidinyl Urea

Jangan keliru antara imidazolidinyl urea/diazolidinyl urea dengan hydroxyethyl urea. Meskipun sama-sama mengandung “urea”, fungsinya berbeda. Hydroxyethyl urea bermanfaat sebagai humektan dan bersifat skin identical.

Sementara itu, imidazolidinyl urea dan diazolidinyl urea adalah pengawet yang juga melepaskan formaldehida. Menurut CIR Expert, penggunaannya dalam kosmetik aman dengan batas konsentrasi maksimum 0,5%. Pengawet jenis formaldehyde releaser ini umumnya dianggap aman dan tidak menimbulkan efek samping serius bagi kesehatan. Namun, efek samping seperti iritasi dan alergi dapat terjadi pada penggunaan jangka panjang, terutama pada kulit yang sensitif. Disarankan melakukan patch test jika menggunakan produk yang mengandung pengawet ini.

Skor EWG untuk imidazolidinyl urea dan diazolidinyl urea adalah 5 (bendera kuning).

6. Methylisothiazolinone (MI)

Methylisothiazolinone (MI) adalah pengawet yang sangat efisien dalam melawan bakteri, bahkan pada konsentrasi rendah. Namun, pengawet ini cukup kontroversial karena cenderung sensitizing dan berpotensi menimbulkan alergi.

Oleh karena itu, MI hanya direkomendasikan untuk produk bilas (rinse-off/wash-off). Konsentrasi maksimum yang diizinkan dalam produk kosmetik adalah 0,01%. Jika Anda memiliki kulit sensitif, disarankan untuk melakukan patch test di belakang telinga sebelum menggunakan produk yang mengandung MI.

Skor EWG untuk MI adalah 7 (bendera merah).

Kesimpulan

Bagi para skincare addict, pengawet seperti phenoxyethanol, paraben, chlorphenesin, DMDM Hydantoin, dan lainnya sulit dihindari karena perannya yang vital dalam menjaga kualitas produk. Pengawet ini berkontribusi besar pada stabilitas dan masa pakai skincare.

Pada akhirnya, pilihan ada pada diri kita masing-masing untuk menentukan pengawet mana yang paling sesuai dengan kondisi dan keunikan kulit kita. Jika Anda masih ragu, pertimbangkan untuk beralih ke produk dengan pengawet yang dianggap lebih kontroversial, seperti Leuconostoc/Radish Root Ferment Filtrate atau EURO-NApre (kombinasi ekstrak tumbuhan Zanthoxylum Piperitum, Usnea Barbata, dan Pulsatilla Koreana).

Ada pula produk yang tidak memerlukan pengawet, yaitu produk anhydrous (formula tanpa air) atau oil-base. Namun, produk jenis ini mungkin tidak mudah ditemukan dan belum tentu cocok untuk semua jenis kulit, serta seringkali memiliki harga yang lebih tinggi.

Penting untuk diingat bahwa setiap jenis pengawet, baik sintetis maupun alami, memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pengawet alami pun bisa memiliki kekurangan, seperti kurang populer, jarang ditemukan dalam produk, dan cenderung lebih mahal. Keinginan memiliki skincare murah dengan bahan berkualitas tinggi memang menjadi dilema yang sulit diatasi.

Terima kasih telah membaca artikel ini, semoga hari Anda semakin cerah!

Sumber referensi:

  • https://www.thefactsabout.co.uk/storage-cosmetic-products
  • ** https://www.reuters.com/article/us-health-pregnancy-parabens-idUSKBN2052RX
  • https://www.americanchemistry.com/chemistry-in-america/chemistries/formaldehyde#:~:text=Formaldehyde%20is%20a%20naturally%20occurring,not%20accumulate%20in%20the%20body.
  • *** https://thedoctorweighsin.com/formaldehyde-cosmetics/
  • https://www.safecosmeticsaustralia.com.au/key-allergens/dmdm-hydantoin

Artikel menarik Lainnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *